Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masjid Agung Baiturrachim, Saksi Sejarah Panjang Peradaban Kota Malingping

Masjid Agung Baiturrachim Malingping
Bantensite_Masjid Agung Baiturrachim adalah Masjid kebanggaan masyarakat kota Malingping yang konon peratama kali dibangun sekitar abad ke-16 m.  Pada saat itu, pembangunan Mesjid ini diprakarsai oleh seorang pejuang asal Sumedang bernama Mina, dan di kemudian hari masyarakat Malingping mengenalnya dengan sebutan “Uyut Mina”. 

Selain seorang pejuang, ternyata uyut mina sendiri merupakan putra dari seorang tokoh pejuang lainnya yang bernama Adipati Wangsanata atau Wangsataruna alias Dipati Ukur.

Sebagai informasi tambahan, dipati Ukur adalah seorang tokoh pejuang asal Sumedang yang pada pertengahan abad ke-16 menjabat sebagai Wedana Bupati Priangan. Dalam masa jabatannya, beliau mendapat tugas memimpin pasukan perang untuk melakukan penyerbuan terhadap VOC di Batavia. Peristiwa tersebut diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1628 M.

Pada saat itu, Uyut Mina yang merupakan putra Dipati Ukur ditugaskan ke tanah Malingping dalam misi gerakan perjuangan mengusir penjajah kolonial Belanda (VOC). 

Dalam mengemban misi perjuangan tersebut ia pun kemudian menetap di Malingping dan membangun sebuah Masjid di tanah kosong milik Kiyai Haji Idris yang masih merupakan kerabatnya. Beliau juga di bantu oleh Kiyai Ahmad dalam setiap pembiayaan penggarapan Masjid Baiturrachim tersebut.

Dengan membangun Masjid Baiturrachim, Uyut Mina berharap Masjid yang sampai kini masih berdiri kokoh ini bisa mempersatukan umat Islam di sekitar Malingping dan para pengelana Muslim yang memang pada saat itu hampir setiap harinya melintasi Daerah ini. 

Hal ini dilakukan tidak lain untuk menyatukan masyarakat dan memperkokoh barisan perlawanan terhadap kekejaman penjajah yang semena-mena terhadap masyarakat pribumi.

Hingga pada akhirnya, Uyut Mina berjuang dan menggembuskan nafas terakhirnya di Tanah Malingping. Menurut beberapa sumber, hingga kini makam yang konon menjadi peristirahatan Uyut Mina masih bisa kita temukan. Yaitu tepat berada di belakang kantor Kecamatan Malingping.

Semenjak saat itu, Masjid Baiturrachim Malingping sendiri sudah mengalami beberapa kali perubahan dan pelebaran di beberapa bagiannya. Setidaknya Masjid ini tercatat telah mengalami Pelebaran sekitar tiga kali.

Pelebaran yang pertama yaitu pada tahun 1958 dari 13x15 meter persegi menjadi 18x15 meter persegi, kemudian diperlebar lagi pada tahun 1963, menjadi 25x15 meter persegi. Pada tahun 1990, mesjid ini kembali diperlebar menjadi 30x15, dan terakhir kali dipermak lagi sekitar tahun 2012, namun kali ini dibangun menjadi dua lantai dikarenakan keterbatasan lahan.

Selain perubahan pada fisik bangunan Masjid, halaman Masjid yang pada awal didirikan berfungsi sebagai tempat menambat kuda kini telah beralih fungsi dan dibangun menjadi alun-alun kota Malingping.

Itulah sekelumit tentang Masjid Agung Baiturrachim Malingping yang telah sekian lama menjadi saksi sejarah panjang perjuangan Uyut Mina beserta Masyarakat Malingping dari masa ke masa.

Namun demikian, keabsahan cerita di atas masih memerlukan pembuktian yang lebih kuat. Karena memang cerita tentang asal-usul Mesjid Baiturrachim maupun Malingping itu sendiri ada beberapa versi yang berbeda.